MHK | Tokoh – Dalam sejarah perfilman Indonesia, nama Teguh Karya adalah standar emas. Lahir di Pandeglang pada 22 September 1937 dengan nama asli Steve Liem Tjoan Hok, ia bukan sekadar sutradara, melainkan arsitek estetika sinema tanah air yang membangun fondasi kuat bagi perkembangan film Indonesia modern.
Di balik deretan mahakarya dan puluhan Piala Citra yang diraihnya di ajang Festival Film Indonesia, tersimpan kisah personal yang sarat makna. Teguh memilih jalan hidup yang tidak biasa: ia tidak pernah menikah. Bukan karena kesepian, melainkan karena sebuah keputusan filosofis yang lahir dari kedalaman pemikirannya tentang dedikasi dan prioritas hidup.
Melalui kelompok teater yang didirikannya pada 1968, Teater Populer, Teguh menjelma menjadi guru bagi banyak aktor besar Indonesia. Dari tangannya lahir nama-nama legendaris seperti Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Alex Komang, hingga Tuti Indra Malaon. Ia tidak hanya mengarahkan adegan, tetapi juga membentuk karakter, disiplin, dan integritas para muridnya.
Film-filmnya seperti Cinta Pertama, Badai Pasti Berlalu, dan Ibunda menjadi tonggak penting dalam sejarah perfilman nasional. Karya-karya tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi mendalam tentang kemanusiaan, keluarga, dan pergulatan batin. Hingga kini, Teguh Karya masih tercatat sebagai salah satu sutradara dengan kemenangan Piala Citra terbanyak dalam sejarah FFI.
Tentang keputusannya untuk melajang, Teguh pernah mengungkapkan filosofi yang begitu menyentuh. Ia menggambarkan hidup manusia seperti memiliki “kamar-kamar” dalam jiwa: kamar untuk pekerjaan, kamar untuk sahabat, kamar untuk negara, dan kamar untuk cinta atau keluarga. Setiap orang bebas menentukan prioritas pengisian kamar-kamar tersebut.
Bagi Teguh, seluruh “ruang” dalam dirinya telah dipenuhi oleh kesenian, persahabatan, dan pengabdian terhadap kebudayaan. Ia merasa energi dan kejujuran yang dituntut oleh seni begitu besar, sehingga tidak menyisakan ruang untuk komitmen pernikahan konvensional. Ia tidak merasa kehilangan; murid-muridnya di Teater Populer adalah anak-anak ideologis yang ia cintai sepenuh hati.
Hingga akhir hayatnya pada 11 Desember 2001 akibat komplikasi pasca-stroke, pengaruh Teguh tidak pernah pudar. Meski sejak 1998 ia harus menggunakan kursi roda, dedikasinya terhadap seni tetap menyala. Penghormatan besar kembali diberikan pada FFI 2015 dengan tema “Tribute to Teguh Karya”, membuktikan bahwa warisannya tetap hidup di tengah generasi baru sineas Indonesia.
Teguh Karya adalah simbol kesetiaan pada jalan sunyi. Ia mungkin tidak meninggalkan keturunan biologis, tetapi ia mewariskan dinasti perfilman yang menjaga martabat sinema Indonesia. Baginya, film adalah napas, dan panggung adalah rumah tempat ia benar-benar hidup. (Dari berbagai sumber)
Pewarta: Dudung
