Pendidikan
Beranda » Berita » Tangkal Radikalisme Sejak Dini, FKDM Bekasi Perkuat Peran Pengurus Lewat Bimtek

Tangkal Radikalisme Sejak Dini, FKDM Bekasi Perkuat Peran Pengurus Lewat Bimtek

Oplus_131072

MHKNEWS, Kota Bekasi —- Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kota Bekasi menggelar kegiatan bimbingan teknis (bimtek) dan sosialisasi bahaya paham intoleransi serta radikalisme di Studio AsMEN, Jalan Puncak Cikunir, Jakasampurna, Bekasi Barat, Kota Bekasi. Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pengurus FKDM tingkat kota dan kecamatan, serta melibatkan unsur pemerintah dan aparat keamanan.

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pengurus FKDM dalam mendeteksi dini potensi gangguan keamanan dan sosial di masyarakat. Selain itu, bimtek ini juga menjadi wadah pembekalan agar pengurus mampu memahami serta menangkal penyebaran paham intoleransi dan radikalisme di wilayahnya masing-masing.

Ketua FKDM Kota Bekasi, Sugiono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa FKDM memiliki peran strategis dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya di Kota Bekasi. Ia menekankan bahwa situasi global yang tidak stabil dapat berdampak pada kondisi dalam negeri, sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan.

Sugiono menjelaskan bahwa FKDM dibentuk berdasarkan regulasi Kementerian Dalam Negeri yang bersifat mandatori. Oleh karena itu, setiap pengurus memiliki kewajiban menjalankan tugas pokok dan fungsi secara maksimal demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Ia juga menyoroti bahwa ancaman tidak selalu berbentuk tindakan kekerasan, tetapi dapat berasal dari penyebaran informasi yang tidak benar. Menurutnya, penyebaran hoaks di media sosial berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat jika tidak disaring dengan baik.

Ada Apa dengan 36% Anggota DPR? Riwayat Pendidikan Tak Dicantumkan!

“Informasi yang tidak diverifikasi dapat menimbulkan konflik. Karena itu, setiap anggota harus mampu memilah dan menganalisis sebelum menyebarkan,” ujarnya.

Selain ancaman, Sugiono mengingatkan adanya tantangan berupa ego individu yang dapat memicu konflik internal. Ia menilai bahwa kurangnya komunikasi dan pemahaman terhadap prosedur sering menjadi hambatan dalam pelaksanaan tugas. Oleh sebab itu, pengurus FKDM diharapkan mampu membangun koordinasi yang baik.

Sugiono turut menekankan pentingnya memahami konsep ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG). Ia menyebutkan bahwa gangguan tidak hanya berupa aksi besar, tetapi juga bisa muncul dari sikap yang tidak konstruktif, termasuk kritik tanpa solusi yang berpotensi menimbulkan kegaduhan.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bekasi, Drs. Hudi Wijayanto, M.Si., yang mewakili Wali Kota Bekasi, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai bimtek ini sebagai langkah penting dalam memperkuat fungsi kewaspadaan dini di masyarakat.

Hudi menegaskan bahwa FKDM harus mengedepankan upaya pencegahan dalam setiap potensi konflik. Ia menyampaikan,

Peletakan Batu Pertama SMK Mitra Industri 03, Hadir PJ Desa Sumber Jaya Ike Rahmawati

“Lebih baik mencegah sejak dini daripada menangani dampaknya setelah terjadi, karena pencegahan merupakan kunci menjaga stabilitas wilayah.”

Ia juga mendorong pengurus FKDM untuk aktif membangun jejaring hingga tingkat RT, RW, dan organisasi masyarakat. Dengan jejaring yang kuat, informasi yang diperoleh dapat diolah menjadi bahan kebijakan yang akurat bagi pemerintah daerah.

Dalam sesi pemaparan, narasumber dari Densus 88, AKP. Nur Safriansyah S.H., menekankan bahwa radikalisme sering berawal dari pola pikir yang berkembang di lingkungan sekitar. Ia menjelaskan bahwa proses radikalisasi dapat muncul dari interaksi sehari-hari yang kemudian membentuk pemahaman eksklusif dan menutup diri dari perbedaan.

Narasumber tersebut menyampaikan bahwa sikap mudah mengkafirkan atau menganggap kelompok lain salah merupakan tanda awal yang perlu diwaspadai. Ia mengatakan,

“Radikalisme itu berawal dari cara berpikir yang sempit, kemudian diperkuat oleh lingkungan yang sejalan, sehingga berkembang menjadi paham yang berbahaya.”

Kegiatan Santunan Anak Yatim piatu dan Dhuafa di Yayasan HAM

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pendekatan persuasif dalam menangani potensi radikalisme. Menurutnya, masyarakat yang terindikasi tidak boleh dijauhi, melainkan dirangkul dan diberikan pemahaman yang benar agar tidak semakin terisolasi.

Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan Badan Anti Narkoba Nasional, antara lain Supriadi dari bidang investigasi, Neni S. dari satuan tugas, serta M. Alwani dari bagian investigasi, serta Ketua DPD AsMEN Kota Bekasi sebagai tuan rumah. Kehadiran mereka memperkuat sinergi lintas sektor dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan masyarakat di Kota Bekasi. (Husni Solihin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement