Close Menu
MHK News
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Aksi Nyata Jumat Bersih, DPD AsMEN Kabupaten Bekasi Gotong Royong Bersihkan Masjid At-Taqwa 

Rapat Koordinasi Hari Ketiga, Panitia Sepakat HPN Bekasi 2026 Diundur ke Mei

Halal Bihalal DPD PSI Kota Depok Jadi Momentum Konsolidasi Menuju Pemilu 2029

Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
MHK News
Subscribe Now Jumat, April 24
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
MHK News
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
You are at:Beranda » Berita » Koperasi tampa Anggota antara Ideal dan Ironi
Ekonomi

Koperasi tampa Anggota antara Ideal dan Ironi

redaksiBy redaksiMaret 25, 2026002 Mins Read
Share Facebook Email WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

MHKNews| Opini – Koperasi lahir dari kesadaran kolektif. Ia bukan sekadar badan usaha, melainkan gerakan ekonomi rakyat yang berakar pada kebersamaan. Kekuatan koperasi bukan pada gedungnya, bukan pada besarnya modal, melainkan pada solidaritas anggotanya. Dari iuran kecil yang dikumpulkan bersama, dari rapat-rapat sederhana yang penuh musyawarah, koperasi tumbuh. Prinsipnya jelas: dari kita, oleh kita, dan untuk kita.

Namun hari ini, kita menyaksikan fenomena yang menggelitik sekaligus mengkhawatirkan.

Atas nama pembangunan koperasi, dana besar digelontorkan dari APBN. Gedung megah didirikan. Fasilitas disiapkan. Infrastruktur dibangun seolah koperasi adalah proyek fisik yang bisa selesai hanya dengan beton dan baja. Ironisnya, semua itu dilakukan bahkan sebelum ada anggota yang nyata, sebelum ada pengurus yang lahir dari kepercayaan bersama.

Di titik ini, koperasi kehilangan jiwanya.
Koperasi tanpa anggota bukanlah koperasi—ia hanya badan usaha yang dipaksakan memakai nama “koperasi”. Ketika inisiatif tidak lahir dari bawah, melainkan dipaksakan dari atas, maka yang tumbuh bukanlah gotong royong, melainkan ketergantungan. Bukan kemandirian, melainkan proyek.

Lebih jauh lagi, model seperti ini berisiko melahirkan koperasi semu: berdiri megah di atas kertas, tetapi kosong dalam praktik. Tidak ada partisipasi, tidak ada rasa memiliki, dan pada akhirnya, tidak ada keberlanjutan. Yang tersisa hanyalah bangunan tanpa kehidupan—monumen kegagalan memahami esensi koperasi.

Kita patut bertanya dengan jujur:
Apakah ini benar-benar koperasi, atau sekadar proyek yang diberi label koperasi?

Jika koperasi dibangun tanpa anggota, tanpa proses partisipatif, tanpa kesadaran kolektif, maka ia telah menyimpang dari ruhnya sendiri. Dan ketika ruh itu hilang, koperasi tidak lagi menjadi alat perjuangan ekonomi rakyat, melainkan berubah menjadi simbol kosong yang mudah runtuh.

Sudah saatnya kita kembali pada akar: koperasi bukan dimulai dari dana besar, tetapi dari kepercayaan kecil yang dirawat bersama. Bukan dari gedung megah, tetapi dari komitmen anggota.

Karena sejatinya, koperasi bukan tentang apa yang dibangun melainkan siapa yang membangunnya, dan untuk siapa ia ada.(Husni)

Share. Facebook Email WhatsApp
Previous ArticleJaga Kesiapan Personel, Dokkes Polres Metro Jakarta Utara Laksanakan Pelayanan dan Pengecekan Kesehatan
Next Article Menguak Fakta “Negara Depok”, Jejak Pemerintahan Lokal di Era Kolonial
redaksi

Related Posts

Perbandingan Program Pemerintah Jadi Sorotan: Infrastruktur vs Program Sosial

April 14, 2026

Kejagung Serahkan Rp 11,4 Triliun ke Negara, Disaksikan Presiden Prabowo Subianto

April 10, 2026

SEMUA BISA PUNYA RUMAH: HUSNI SUKSES GROUP HADIRKAN HUNIAN MURAH TANPA DP DI BEKASI & DEPOK

Maret 30, 2026
© 2026 mhknews Designed by mhknews.
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.