
MHKNews| Opini – Koperasi lahir dari kesadaran kolektif. Ia bukan sekadar badan usaha, melainkan gerakan ekonomi rakyat yang berakar pada kebersamaan. Kekuatan koperasi bukan pada gedungnya, bukan pada besarnya modal, melainkan pada solidaritas anggotanya. Dari iuran kecil yang dikumpulkan bersama, dari rapat-rapat sederhana yang penuh musyawarah, koperasi tumbuh. Prinsipnya jelas: dari kita, oleh kita, dan untuk kita.
Namun hari ini, kita menyaksikan fenomena yang menggelitik sekaligus mengkhawatirkan.
Atas nama pembangunan koperasi, dana besar digelontorkan dari APBN. Gedung megah didirikan. Fasilitas disiapkan. Infrastruktur dibangun seolah koperasi adalah proyek fisik yang bisa selesai hanya dengan beton dan baja. Ironisnya, semua itu dilakukan bahkan sebelum ada anggota yang nyata, sebelum ada pengurus yang lahir dari kepercayaan bersama.
Di titik ini, koperasi kehilangan jiwanya.
Koperasi tanpa anggota bukanlah koperasi—ia hanya badan usaha yang dipaksakan memakai nama “koperasi”. Ketika inisiatif tidak lahir dari bawah, melainkan dipaksakan dari atas, maka yang tumbuh bukanlah gotong royong, melainkan ketergantungan. Bukan kemandirian, melainkan proyek.
Lebih jauh lagi, model seperti ini berisiko melahirkan koperasi semu: berdiri megah di atas kertas, tetapi kosong dalam praktik. Tidak ada partisipasi, tidak ada rasa memiliki, dan pada akhirnya, tidak ada keberlanjutan. Yang tersisa hanyalah bangunan tanpa kehidupan—monumen kegagalan memahami esensi koperasi.
Kita patut bertanya dengan jujur:
Apakah ini benar-benar koperasi, atau sekadar proyek yang diberi label koperasi?
Jika koperasi dibangun tanpa anggota, tanpa proses partisipatif, tanpa kesadaran kolektif, maka ia telah menyimpang dari ruhnya sendiri. Dan ketika ruh itu hilang, koperasi tidak lagi menjadi alat perjuangan ekonomi rakyat, melainkan berubah menjadi simbol kosong yang mudah runtuh.
Sudah saatnya kita kembali pada akar: koperasi bukan dimulai dari dana besar, tetapi dari kepercayaan kecil yang dirawat bersama. Bukan dari gedung megah, tetapi dari komitmen anggota.
Karena sejatinya, koperasi bukan tentang apa yang dibangun melainkan siapa yang membangunnya, dan untuk siapa ia ada.(Husni)