Purwakarta — MHKNews 14/06/2026
Inovasi pertanian yang cerdas diperlihatkan oleh seorang petani lokal bernama Ade Supriadi. Didukung penuh oleh putrinya, Rani Roaeni, Ade berhasil menerapkan sistem tumpang sari (intercropping) yang mengombinasikan budidaya tanaman bawang daun dengan bunga sedap malam.
Langkah kreatif ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas pendapatan dan mengoptimalkan fungsi lahan pertanian mereka Daerah Purwakarta.
Sistem yang diterapkan oleh Ade Supriadi tergolong unik namun sangat terencana. Pada fase awal, mereka menanam bawang daun dan bunga sedap malam secara bersamaan. Memasuki usia **100 hari pertama**, masa panen perdana pun tiba.
“Kuncinya ada pada manajemen waktu tanam. Pada 100 hari pertama, kami fokus pada perawatan intensif untuk kedua komoditas. Setelah panen perdana sedap malam berhasil dilewati, langkah selanjutnya adalah melakukan penanaman secara berkala (bertahap) **setiap seminggu sekali**, ujar Ade Supriadi saat ditemui di lahan pertaniannya daerah Purwakarta
Sistem penanaman berkala setiap minggu ini sengaja dirancang agar rantai produksi tidak terputus. Dengan pola ini, Ade dan Rani dapat melakukan panen bunga sedap malam secara rutin setiap pekan demi memenuhi tingginya permintaan pasar dekorasi dan ritual keagamaan yang selalu stabil.
Keberhasilan ini tidak luput dari peran aktif sang anak, Rani Roaeni. Rani bertugas membantu sang ayah Disaat Libur Sekolah , mulai dari pencatatan jadwal tanam mingguan, perawatan di lapangan, hingga manajemen pemasaran pascapanen. Kolaborasi bapak dan anak ini menjadi contoh nyata bagaimana generasi muda dapat ikut memajukan sektor pertanian dengan manajemen yang lebih modern dan adaptif.
Metode tumpang sari bawang daun dan sedap malam yang dirintis oleh Ade Supriadi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para petani lain di Indonesia dalam menyiasati fluktuasi harga komoditas tunggal dan memaksimalkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.
(MHKNews/Red)
