MHKNews, Inspirasi – Pemahaman tentang jati diri manusia kembali menjadi sorotan. Tokoh intelektual Saiful Karim mengungkapkan pandangan mendalam mengenai hakikat eksistensi manusia yang dinilai kian tergerus oleh arus modernitas dan krisis nilai.
Dalam pemaparannya, Saiful Karim menegaskan bahwa jati diri manusia tidak bisa dipersempit hanya pada identitas fisik, status sosial, atau atribut duniawi. Menurutnya, jati diri sejati merupakan proses kesadaran mendalam untuk memahami tujuan hidup dan makna penciptaan manusia itu sendiri.
“Manusia bukan sekadar makhluk biologis, tetapi makhluk spiritual yang memiliki akal, hati, dan kehendak bebas. Di situlah letak kemuliaannya,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki keunikan yang tidak dimiliki makhluk lain, yakni kemampuan berpikir (akal), merasakan (hati nurani), serta memilih (kehendak bebas). Tiga unsur ini menjadi fondasi utama dalam membentuk jati diri yang utuh.
Lebih lanjut, Saiful Karim menekankan bahwa jati diri manusia sejati tercermin dari kemampuannya:
Mengenal Sang Pencipta
Menjalankan peran sebagai khalifah di bumi
Mengendalikan hawa nafsu menuju kebaikan
Menurutnya, krisis jati diri yang terjadi saat ini membuat banyak manusia kehilangan arah, mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif, dan terjebak dalam kehidupan tanpa makna.
“Pencarian jati diri adalah perjalanan panjang menuju kesadaran. Bukan instan, tapi harus melalui proses refleksi, perjuangan, dan kejujuran terhadap diri sendiri,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa seseorang yang telah menemukan jati dirinya akan memiliki karakter kuat, prinsip hidup yang jelas, serta keteguhan dalam membedakan antara benar dan salah.
Individu seperti ini tidak mudah goyah oleh tekanan sosial maupun arus zaman.
Di tengah perubahan global yang cepat, pemahaman tentang jati diri dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga arah kehidupan manusia agar tetap berada pada nilai-nilai kebenaran.
MHKNews mencatat, gagasan ini menjadi pengingat penting bahwa manusia tidak hanya dituntut untuk sukses secara materi, tetapi juga harus mampu menemukan makna hidup yang sejati, memberikan manfaat bagi sesama, serta mencapai kebahagiaan hakiki sesuai dengan fitrahnya.(Husni)


Komentar